Khawatir Menikah : Dilema Sudut Pandang Laki laki VS Perempuan

*Idul Saputra, S.E

Kamis, 18 April 2024 | Artikel
Khawatir Menikah : Dilema Sudut Pandang Laki laki VS Perempuan
Ilustrasi situasi pernikahan

Menikah merupakan ibadah terpanjang yang setiap orang normal pasti inginkan. Hidup satu atap, melakukan semua aktivitas dengan orang tercinta agaknya menjadi impian suci yang selalu didambakan. Diperhatikan, diberikan kasih sayang kelembutan, menghabiskan hari dengan berduaan. Sungguh anugerah luar biasa dari Tuhan.

Sungguhpun demikian, ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Banyak kekhawatiran yang menghantui pikiran ketika hendak akan menikah itu. Kekhawatiran dari sudut pandang laki laki begitu pula sudut pandang perempuan.

Berikut ini Penulis merangkum kekhawatiran itu dari hasil wawancara kecil-kecilan dengan responden pemuda-pemudi yang berusia rentang umur 20-30 tahun.

1. Kekhawatiran Laki Laki

  • Biaya pernikahan 

Menikah memerlukan biaya yang tidak sedikit. Apalagi di era gengsi yang tinggi, semua mesti perfeck dan mewah. Belum lagi acara adat kebiasaan yang mesti diikutkan serta komentar komentar orang yang membabi buta dari tetangga julid. Bahkan tidak lagi ditemukan nikah cukup dengan akad saja. 

Namun Penulis bukan dalam rangka ingin menjabarkan pretelan pretelan pembiayaan itu. 

"Orang-orang kok bisa menikah, dari mana uangnya?" begitu celetuk teman saya berinisial F yang ahli memotret. Saking bingungnya memenuhi biaya pernikahan yang selangit. 

Pertanyaan singkat ini hanya berlaku bagi yang tidak dapat sokongan dana besar dari orang tua atau boleh disebut jalur mandiri. 

Tidak berlaku bagi mereka yang masa depan nya sudah disusun rapi oleh Bokap dan Nyokapnya. Apalah biaya menikah, biaya seumur hidup pun siap disantuni oleh Papa Mama. 

  • Kehidupan Sesudah Menikah

Laki-laki diciptakan Tuhan punya jatah pikiran lebih dibanding perempuan. Mereka seringkali berpikir jangka panjang yakni kehidupan sesudah menikah. Kehidupan kalau sudah punya anak, padahal belum juga punya.

Bagaimana mumetnya gaji yang tak seberapa akan dibenturkan dengan kebutuhan yang banyak, gas habis, beras habis, popok, susu anak, biaya lahiran dan lainnya. 

Halaman:

*Tenaga Pendidik - Relawan Sosial Kemanusiaan -Pegiat Literasi

Donasi Bencana Banjir Bandang Lahar Dingin Kabupaten Agam
Bagikan:
Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia
Untuk lima puluh kota lebih baik